Susu Makanan Ajaib yang Membantu Umat Manusia Bertahan Hidup

Percaya atau tidak, selama 150.000 tahun lamanya manusia diperkirakan telah berjalan di muka bumi, kita tidak pernah menikmati lezatnya minum susu. Tentu saja anak-anak memang minum susu, tetapi pada usia 6-7 tahun, tubuh mereka mulai kehilangan kemampuan untuk memproduksi laktase, yaitu enzim pemecah gula dalam susu (laktosa). Jika manusia sebelum 7000 tahun yang lalu, mencoba meminum susu, mereka akan mengalami reaksi fisik yang ekstrem seperti kembung, kram, diare, mual, dan muntah. Namun kemudian, sesuatu terjadi 7000 tahun lalu dan mengubah semua itu.

 

Di zaman modern ini, di wilayah Amerika bagian Utara umumnya manusia sangat lazim meminum susu segar setiap hari. Meskipun banyak budaya di seluruh dunia mengonsumsi berbagai bentuk susu fermentasi seperti kefir dan keju, hanya 35% populasi dunia yang benar-benar dapat minum susu segar. Itu karena fermentasi menghilangkan sebagian besar laktosa yang tidak dapat dicerna oleh manusia. Jadi apa yang terjadi? Mengapa sebagian dari kita di Eropa, Timur Tengah, dan sebagian Afrika dapat minum susu, tetapi sebagian lainnya tidak?

Baca juga:  Perawatan Sepatu Safety Caterpillar Agar Awet dan Tahan Lama

 

Para sejarawan umumnya setuju bahwa usaha peternakan dimulai segera setelah domestikasi hewan sekitar 10.000 tahun yang lalu. Awalnya domba, kambing, sapi, dan babi memasok daging, kulit, dan rambut. Para gembala Neolitik oportunistik mungkin mengamati seekor hewan menyusui pada induknya dan berpikir, “Hei, aku juga ingin minum itu”. Dan upaya mereka untuk meminum “itu” akan memiliki efek bencana pada usus tadi. Beruntung bagi para inovator Neolitik, makanan fermentasi telah lama ada. Mereka telah mengetahui bahwa fermentasi dapat mengubah makanan yang sulit dicerna menjadi sesuatu yang lebih enak dan tahan lama (bahkan beralkohol). Proses fermentasi sangat cocok digunakan untuk mengolah susu. Di daerah Timur Tengah yang terik, tempat peternakan-peternakan pertama kali dimulai, susu yang diambil dari hewan di pagi hari akan menjadi yogurt pada siang hari. Jadi pada tahun-tahun awal sejarah susu sebagai bahan makanan, keju, yogurt, dan produk fermentasi lainnya adalah satu-satunya bentuk susu yang pernah dikonsumsi manusia.  Kemudian sesuatu terjadi: mutasi genetik muncul yang memungkinkan tubuh untuk terus memproduksi laktase hingga dewasa. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri pada populasi manusia yang terbiasa mengonsumsi banyak produk susu. Susu yang dapat disimpan dan dapat diakses sesuai kebutuhan bisa mencegah kelaparan akibat gagal panen. Usaha peternakan memungkinkan eksploitasi berkelanjutan terhadap hewan, yang lebih memberikan keuntungan jangka panjang dibanding membunuh mereka untuk dagingnya. Manusia dengan gen bermutasi tersebut memiliki kesempatan lebih baik untuk bertahan hidup dan menghasilkan anak dengan kemampuan yang sama. Tak lama kemudian, 80% manusia dengan peternakan susu di Timur Tengah dan Eropa membawa gen ini.

Baca juga:  Cara Menjaga Fungsi Organ Reproduksi

 

Peternakan susu menjadi andalan budaya dan makanan. Bagi manusia yang bisa minum susu, manfaatnya banyak sekali. Susu dianggap sebagai makanan “lengkap”, yang berarti manusia dapat hidup hanya dengan mengonsumsi susu jika terpaksa. Susu sarat dengan protein, vitamin, enzim pencernaan, 8 asam amino esensial, dan banyak mineral penting seperti kalsium. Sebanyak 80% protein mudah dicerna dan susu mentah mengandung bakteri menguntungkan untuk membantu pencernaan dan melindungi dari penyakit. Dengan adanya berbagai peternakan, manusia dan hewan semakin berhubungan dekat sehingga banyak penyakit baru menular ke manusia, misalnya influenza, cacar, tuberkulosis, dan campak, yang sebelumnya tidak dikenal manusia. Namun, seiring berjalannya waktu, manusia juga mengembangkan toleransi dan ilmu pengobatan, sehingga manfaat dari peternakan susu tetap lebih besar dibandingkan kerugiannya.

Baca juga:  Pekerjaan Bimbingan Privat: Penghasilan Paruh Waktu yang Luar Biasa

 

Artikel untuk LabnGoat Jateng dan LabnGoat DIY